Damainya Jogja
minggu lalu saya berkesempatan ke Jogja, dalam rangka dinas sih… tapi saya sempatkan untuk sekalian menikmati kota tersebut untuk me-refresh kejenuhan sehari-hari diterjang prahara komersialitas dan materialistisnya Jakarta.
malam hari saya sempatkan nongkrong (istilah jawanya "ngangkring") di salah satu angkringan dekat stasiun, konon terkenal akan kopinya yang nge-josss karena ada bara api yang dimasukkan ke gelas berisi kopi –> bunyinya jossss…
dari situ saya lanjutkan minum2 wedang ronde sambil ngobrol ngalor ngidul sama penjualnya.
wisata jiwa malam itupun saya lanjutkan dengan berjalan santai menuju pasar beringharjo, salah satu pusat keramaian di siang hari. akan halnya di malam hari, agak berbeda seperti terakhir kali saya berkunjung ke sana… para penjual makanan tidaklah sebanyak dahulu. salah satu yang tersisa adalah beliau ini, Simbah, begitu beliau menyebut dirinya.
beliau bercerita panjang lebar tentang pengalamannya sebagai salah satu saksi sejarah perkembangan Jogja pada umumnya, dan Malioboro pada khususnya.
bagaimana cerita beliau selengkapnya, dan liputan lain mengenai Jogja nanti menyusul ya… udah jam kerja nih
salam damai untuk jogja




Leave a Reply