header image
 

Sunda Kelapa mirip belanda lho…

SUNDA KELAPA… New Netherland…

Sunda_kelapa_24a

Ceritanya minggu lalu hunting bareng temen-temen kantor…
Obyeknya: SUNDA KELAPA; secara kita udah pernah hunting kota tua, landscape, flora dan fauna, sementara Sunda Kelapa yang notabene salah satu tempat standar hunting foto malah belum kita datengin.
Rencananya mau ngambil sunset di sana, tadinya mau pakai busway eh kok ya pada penuh semua. Ya udah deh, taksi jadinya. Kami bertujuh naik dua taksi. Semua peralatan (yang dipunyai) udah siap, dari mulai kamera, lensa, filter, dan tripod. Idealnya sih pakai Graduated Neutral Density (GND) filter, tapi apa daya belum punya ya udah pakai filter seadanya aja deh… Yang penting skill (halah… bilang aja gak punya duit buat beli gadget :))

Sampai sana masih jam 4:30 sore, jadi masih sempet naik perahu muterin area perairan pelabuhan, dinahkodai sama Pak Daeng dari Bugis yang senyumnya sangat menggoda…

Sunda_kelapa_11a

Ada yang mengenaskan nih, jadi ceritanya laut lagi pasang. Di samping pelabuhan ada area rawa dan perumahan rakyat. Antara laut dan area perumahan itu dibatasi oleh tanggul dari beton yang tingginya sekitar 2 meteran. Apa yang terjadi pada saat laut pasang saudara-saudara? –> Tinggi permukaan air laut berada di atas daratan di mana pemukiman penduduk itu berada. Mana airnya hitam pekat dan banyak sampah pula, walah!!!
Sementara itu jalanan area pelabuhan itu sendiri katanya sudah langganan kalau air pasang pasti jalanan tergenang. Begini ini nih pemandangannya kira-kira… (ini sekitar jam 6 sore)

Sunda_kelapa_21a

Baru kali ini tahu bahwa ada daratan di bawah permukaan air laut di Indonesia, tepatnya di Jakarta. Selama ini cuma denger cerita-ceritanya hanya ada di Londo. Weleh… weleh… Sunda Kelapa (atau Jakarta) bakal jadi negeri Belanda baru nih kalau begini caranya, atau lebih ekstrim lagi kalau dibiarkan bisa jadi Jakarta Utara tinggal kenangan… hiiii….
Jadi serem ya???

Ada yang masih minat beli rumah mewah yang super mahal di pantai utara Jakarta? he he he… Sereeeemmmm….

Salam Global Warming, semoga kita bisa menyerahkan bumi yang indah bagi anak cucu kita…

Dieng - Negeri di atas awan…

DIENG… Negeri di atas awan…

Img_4307a_2

Pagi itu, Kamis 12 Juni 2008 ceritanya Sekarlangit lulus TK dan mau perpisahan di sekolahnya… berhubung ini jadi big event buat dia, jadilah gue ijin dari kantor buat menghadiri pesta perpisahannya.

Minggu depannya sesuai rencana sebelumnya, setelah lulus TK kami sekeluarga mau liburan ke Jawa. Berhubung seumur-umur dulu di Jawa tapi belum pernah ke Dieng, langsung deh diputuskan liburan kali ini : DIENG!!! Sekalian mau nyobain mobil Innova baru (nggak baru-baru amat sih, udah 3 bulan) buat jalan jauh… Minggu pagi, jam 3 start dari Duren Sawit. Ngisi bensin dulu, langsung tancap menuju Cipularang. Jalur yang direncanakan: Jakarta – Cipularang – Ciamis – Purwokerto – Wonosobo.

Berhubung masih pagi, tol masih lega banget. Di sepanjang tol Cipularang bisa agak konstan di kecepatan 120 km/jam. Cukuplah untuk sebuah perjalanan keluarga.

Sebagai supir, gue merasa sangat sirik sama Sekarlangit yang sepanjang perjalanan bisa tidur selonjor di bangku tengah, dan kalau bangun terus bisa main-main di karpet.

Perjalanan lumayan lancar, 7 jam sudah sampai daerah Purwokerto. Mampir sebentar di Sukaraja – Purwokerto jam 10 pagi, buat makan Soto Pak Kecik. Mak Nyuuuss… Sekali isi bensin di Banjarnegara, sampailah kami di Wonosobo jam 12 siang, cek in di Hotel Kresna. Bagus banget interior hotelnya, so classic. Furnturenya bagus-bagus. Tapi rate-nya agak mahal untuk ukuran daerah, di Wonosobo gitu loh… Kolam renangnya duingiinn banget…

Hotel lain ada beberapa sih, lebih murahan. Tapi berhubung ini liburan keluarga, lagi males ambil risiko…

Kami dapat kamar yang cukup luas menghadap ke jalan raya, jadi kalau pagi bisa lihat aktivitas masyarakat yang mulai pada berangkat kerja/sekolah.

Img_4557a_2

…ruang makan hotel yang classy…

Img_4571a_1

…pose sebentar di depan lobby area…

Img_4584a_2

…siNOVA ikutan pose di depan hotel…

Img_4583a_2

…pose sebentar di depan hotel…

Besok paginya, barulah kami meluncur ke Dieng. Tujuan sebenarnya dari perjalanan kali ini. Wuih, bener-bener deh… jalanannya asik naik turun belok-belok, tapi pemandangannya itu lho yang WOW…

Mobil kami bisa sampai ada di atas awan, sampai-sampai istri berkali-kali ngingetin ”liatin jalan, jangan liat kanan kiri”…

Dari Wonosobo menuju ke Dieng jarak yang harus ditempuh sekitar 25 km, dicapai dalam waktu sekitar 30 -45 menit (nggak termasuk mampir-mampir buat foto). Jalannya cukup curam naik turunnya, jadi kalau bisa jangan bawa mobil yang nggak fit, ban gundul, atau ”napas”nya ngepas.

Pertama-tama kami berhenti sebentar di Menara Pandang buat menikmati view yang oke banget, mungkin kalau kami sampai sana lebih pagi lagi (sebelum jam 6) bisa dapat pemandangan sunrise yang lebih dahsyat.

Jam 9 pagi aja bisa bening begini langitnya…

Img_4340a_2

…hijaunya dedaunan, birunya langit dan pegunungan…

Img_4349a_3

…little happy family…

Selesai dari Menara Pandang, lanjut naik lagi ke kompleks Diengnya. Di situ ada kawah, ada candi, dan ada telaga warna.

Img_4393a_2

Namanya juga kawah, ya pasti bau belerang lah ya…

Tapi demi rasa penasaran, wong sudah jauh-jauh ke sana masa gak sampai kawahnya… jadi deh dijabanin juga dan potret-potret di kawah. Ada kawah Sileri, ada juga yang lebih besar yaitu kawah Sikidang. Di kawah Sikidang ini agak ramai, dan untuk masuknya bayar lagi. Kawah Sikidang ini asapnya banyak banget, jadi kalau mau lihat kawahnya musti tunggu angin agak reda atau ya siap-siap tutup hidung. Setelah puas lihat kawah, di situ bisa makan kentang goreng fresh… lumayan enak sambil dingin-dingin udara Dieng…

Img_4396a_1

…kawah Sikidang…

Img_4428a_3

…little happy family…

Dari kawah, perjalanan lanjut lagi nonton teater tentang cerita Dieng, dan telaga warna. Terus terang telaga warna Dieng agak mengerikan menurut gue… warnanya hijau muda dan tidak tampak kehidupan didalamnya… kesannya didalamnya itu ada sesuatu yang sangat misterius. Bisa-bisa kalau kita kecebur nanti dihisap dan masuk ke kehidupan lain. Hiiii…..

Di telaga warna juga ada jalan setapak yang bisa disusuri sambil menikmati pemandangan.

Img_4435a_3

…muramnya Telaga Warna…

Img_4487a_1

…lorong pepohonan di Telaga Warna…

Img_4434a_2

…mejeng sama siNOVA di depan teater…

Pulangnya dari Dieng meluncur turun ke Wonosobo, sempat foto-foto lagi dengan nuansa sore… kalau tadi berangkatnya kan nuansa pagi.

Saking bersihnya langit, jam 3 sore bulan sudah kelihatan tuh… (keliatan kecil sih, karena pakai lensa lebar). Kita bisa pilih, mau lihat hamparan kebun kol, kebun kentang, atau lainnya.

Satu hal yang dirasakan selama seharian melewati kawasan Dieng, penduduknya rajin-rajin. Hampir tidak pernah lihat orang yang nongkrong-nongkrong, semuanya kerja di kebun masing-masing. Betul-betul menyenangkan melihatnya…

Img_4322a_1

…Dieng menjelang senja…

Img_4326a_2

…narsis juga nih mobil…

Malam harinya kami mencoba masakan khas Wonosobo à Mie Ongklok. Rasanya cukup unik… pertama-tama agak aneh pas ketemu di mulut, begitu sendokan ketiga dan seterusnya sudah mulai biasa. Enak juga Mie Ongklok, cocok dengan dinginnya malam di Wonosobo. Oh iya, satu lagi unik (tapi nggak enak) nya Wonosobo, jam 18:30 kehidupan luar rumah sudah selesai. Alhasil di atas jam itu sepiii… cari makanan juga susah. Setelah jam tersebut yang ada di sekitar alun-alun tinggal roti bakar dan wedang ronde. Wedang ronde di alun-alun Wonosobo cukup unik. Selain rasanya yang manis (kurang jahenya), juga termasuk dalam paketnya sepiring kecil emping. Baru kali ini minum wedang ronde ditemani emping…

Selesailah sudah petualangan ke Dieng yang sudah diidamkan dari lama. Semoga perjalanan ke Dieng ini bukan jadi petualangan yang terkahir. Akan ada petualangan Dieng yang ke-2 paling tidaklah… masih penasaran pengen hunting foto yang agak fokus.

Cari sunrise (jam 5 sudah on the spot), sunset (jam 4 sore sudah siap di atas), human interest (petani, rambut gimbal), dll. Wah bener-bener lengkap deh di sini buat para fotografer…

Besok paginya kami melanjutkan perjalanan ke Purwokerto dan Garut.

Beberapa tips buat yang mau ke Dieng:

  1. Untuk tujuan utama ke Dieng, kalau bepergian dengan keluarga supaya agak nyaman cari penginapannya di Wonosobo. Kalau bepergian dengan teman-teman yang hobi berpetualang, bisa coba menginap di Diengnya. Di sana lebih dekat dengan lokasi, tetapi mungkin fasilitas tidak senyaman hotel di Wonosobo.
  2. Siapkan kondisi kendaraan supaya prima. Jalan ke Dieng lumayan curam, kalau kendaraan kurang fit bisa merusak semua perjalanan.
  3. Kalau bisa, mulai naik ke Dieng pada pagi hari. Apalagi kalau bisa dapat sunrise di atas. Siang hari biasanya kabut atau awan turun jadi mengurangi pemandangan. Sore hari menjelang senja bisa didapat pemandangan indah yang lain lagi, nuansanya berwarna jingga.
  4. Cari atau mintalah peta Dieng di hotel tempat menginap, supaya bisa direncanakan jalur yang mau dilewati.
  5. Sedia jaket atau baju hangat, di sana dingiiin….
  6. Sedia kamera untuk dokumentasi, rugi sudah sampai sana kalau nggak ada  foto-foto.

Salam jalan-jalan…

Ramayana Ballet - Prambanan

Seperti gue janjikan sebelumnya, di sini gue ceritain pengalaman lain ketika ke Jogja akhir bulan lalu….

Pagi itu dimulai dengan jalan-jalan pagi ke Beringharjo, melihat kesibukan di pagi hari para pedagang di pasar itu… detilnya nanti aja di episode selanjutnya ya… :)

Pas jalan di sekitaran Malioboro (lihat-lihat, hunting obyek foto, belanja dikit-dikit) lewat di depan salah satu pusat informasi pariwisata di sampingnya Hotel Mutiara. Didepannya ada papan promosi "Ramayana Ballet". Berhubung pernah denger-denger tentang Sendratari Ramayana itu, masuklah kami (gue & istri). Tanya ini itu, dapatlah info untuk tarifnya 40 - 150 ribu, plus kalau mau antar jemput 40 ribu per pax.

Istri sms ke temannya yang dari jogja, begitu pula gue. Jawabannya hampir sama –> "Katanya sih bagus banget". Nah lho, yang orang jogja aja belum pada lihat… kalau emang bagus, masa iya orang jogja aja belum lihat. Ya tho?

Atas dasar kata "bagus banget" itu akhirnya deal-lah untuk 2 kursi @ 75 ribu plus antar jemput. Total jendral 230 ribu (ayo tes berhitung).

Jam 18:10 dijemput di hotel, langsung meluncur ke pelataran barat kompleks candi Prambanan (bukan di kompleks candi utamanya). Wah, gede juga gedungnya… dan yang membuat "greng" itu pemandangannya. Wow… panggung dengan background candi Prambanan asli yang bernuansa magis karena sorot lampu kuning… Where else in Indonesia (probably the world) can we find such magnificent view!!!

Diy_37a_1

Nah, tepat jam 19:30 dimulailah pertunjukkannya. Setelah sebelumnya sibuk mondar-mandir nyari spot yang oke buat motret, nongkronglah kami di barisan depan yang dekat ke panggung untuk mendapatkan eye level contact dengan sang penari.

Muncul di awal, tentu saja sang Dewi Shinta yang mempesona… silakan nikmati kelemahlembutannya dalam foto ini :)

Diy_39a

belum cukup? ini gue kasih satu lagi….

Diy_41a

udah ah, 2 aja… kebangetan kalau nggak puas.
oh ya, mumpung ingat…. buat yang foto2nya dipajang di sini kalau ada yang merasa keberatan silakan kontak saya ya. Saya memajang di sini biar tenar aja, nggak ada niat buruk sama sekali. Toh saya pikir saya motretnya di ajang publik.

Selepas terpukau dengan gemulainya Dewi Shinta, kita akan disuguhi dinamisnya pertarungan-pertarungan antara bala tentaranya Rama (termasuk pasukan keranya) dan bala tentaranya Rahwana.

Diy_42a

itu yang namanya Sugriwa dan Subali lagi berantem rebutan istri…

Diy_43a

nah yang ini keren abis, TOP BGT !!!! Scene yang satu ini sangat terkenal dalam dunia perwayangan, namanya –> ANOMAN OBONG. Yaitu adegan di mana Anoman membakar kerajannya Rahwana. Hebatnya, dalam sendratari ini beneran bakar-bakaran. Wah keren banget asli…

Diy_45a

Yang ini pada saat gugurnya Kumbakarna. Sebenernya gue kurang sreg sama kalahnya dia –> dikeroyok Rama dan Lesmana (gak asik main keroyokan). Kumbakarna ini raksasa adiknya Rahwana tapi baik hati, dia maju ke medan perang bukan membela kakaknya yang salah tapi dalam rangka kewajiban warga negara. Makanya pas dia gugur langsung disambut bidadari2 dari kayangan, Eh, bidadarinya ada yang cakep… ini dia…

Diy_44a

enough… enough… kita sampai pada penghujung acara. Apalagi kalau bukan happy ending, Hollywood ending sudah eksis dari ribuan tahun lalu juga rupanya.
Akhirnya Rahwana kalah, dan Shinta kembali ke pelukan Sri Rama.
And they both live happily ever after.

Diy_46a

Sampun cekap pangaturipun, ndherek langkung badhe nerasaken lampah. Pareng…..

Diy_50a

Damainya Jogja

minggu lalu saya berkesempatan ke Jogja, dalam rangka dinas sih… tapi saya sempatkan untuk sekalian menikmati kota tersebut untuk me-refresh kejenuhan sehari-hari diterjang prahara komersialitas dan materialistisnya Jakarta.

Diy43a








malam hari saya sempatkan nongkrong (istilah jawanya "ngangkring") di salah satu angkringan dekat stasiun, konon terkenal akan kopinya yang nge-josss karena ada bara api yang dimasukkan ke gelas berisi kopi –> bunyinya jossss… :) dari situ saya lanjutkan minum2 wedang ronde sambil ngobrol ngalor ngidul sama penjualnya.

wisata jiwa malam itupun saya lanjutkan dengan berjalan santai menuju pasar beringharjo, salah satu pusat keramaian di siang hari. akan halnya di malam hari, agak berbeda seperti terakhir kali saya berkunjung ke sana… para penjual makanan tidaklah sebanyak dahulu. salah satu yang tersisa adalah beliau ini, Simbah, begitu beliau menyebut dirinya.

Diy_01a








beliau bercerita panjang lebar tentang pengalamannya sebagai salah satu saksi sejarah perkembangan Jogja pada umumnya, dan Malioboro pada khususnya.
bagaimana cerita beliau selengkapnya, dan liputan lain mengenai Jogja nanti menyusul ya… udah jam kerja nih :)

salam damai untuk jogja


Diy_29a

Air Asia - Malaysia Inc.

Alkisah, tanggal 9 Januari 2007 sekitar jam 5 sore dapat info dari oom Jati tentang bocoran program promo 1 juta kursi gratis Air Asia. Info resminya baru diposting di media massa 1 hari sesudahnya. Langsung deh bergegas ke website www.airasia.com.
Tujuan awal sih Bangkok - wisata budaya gitu deh. Soalnya kalau mau wisata alam tropis (pantai dll) Indonesia udah nggak ada yang ngalahin deh.
The problem is, berhubung AirAsia itu airline Malaysia maka harus transit dulu di Kuala Lumpur - yang so far in my humble opinion nggak ada menarik-menariknya babar blas… kalau mungkin ada yang sedikit membuat penasaran ya paling Twin Towernya aja untuk sekedar "aku pernah ke sana lho…" :)
Dihitung-hitung, kalo musti transit dulu kok males ya spent time & money di kota/negara itu. Ya udah deh, akhirnya keputusan ke surganya Indonesia aja: BALI. Dapat kursi murah ke Denpasar pertengahan tahun ini. Target: wisata seni (Ubud & dance performance), plus nyobain Babi Guling Ibu Oka yang katanya Mak Nyussss tenaannn…
Apa yang bisa kita lihat dari program Air Asia itu adalah bahwa Malaysia itu ibarat sebuah korporasi yang berusaha saling membantu antar sektornya. Coba aja, dengan adanya orang-orang yang dengan sukacita terbang murah ke Kuala Lumpur (padahal tadinya nggak pengen-pengen amat, cuma sekedar biar pernah ke sana atau transit ke mana) bisa dikalkulasi tuh economic multiplier effect yang didapat. Hitung sendiri lah ya, lagi males ngitung2 nih…
Di sisi lain, propaganda Malaysia yang cukup mencengangkan tapi di sisi lain cukup merugikan Indonesia adalah slogannya: Malaysia - Truly Asia. Mencengangkannya adalah: foreigner non Asia diedukasi bahwa Malaysia itu represent Asia. Jadi kalau mau lihat Asia, ya ke Malaysia aja… Merugikannya adalah: bisa-bisa foreigner non Asia lebih mengenal Malaysia dibanding Indonesia (ini udah terjadi sih, tapi bisa lebih parah). Batik dan keris udah diklaim, tarian Jawapun udah diklaim sebagai Malay Dance di TV Astro Ceria buat anak-anak. Kalau Tari Padang/Melayu masih okelah karena emang satu rumpun, ini Tari Jawa yang nggak nyambung sama sekali sama Kerajaan Melayu… :(
Nggak usah coba bandingkan dengan Indonesia deh, capek dan nggak konstruktif. Tinggal kita lakukan yang kita bisa aja dalam skala kecil. Contoh yang paling gampang, di komunitas ini. Coba deh mulai kita pajang foto-foto tentang tempat-tempat yang oke di Indonesia ini. Kita promosikanlah negara ini (I should have written this blog in English, hopefully next time :)), wisata arsitektur kuno (candi cuma kalah sama Angkor Wat), wisata kesenian (banyak banget tuh tarian), wisata kuliner (dari mulai Gudeg, Nasi Goreng - terkenal nih trademark Indonesia, Sate, Betutu, Babi Guling/Panggang, dll.), dan lain-lain. Nanti menyusul deh kalau ada waktu…
Meanwhile, ayo pasang foto-foto Indonesia…
Hidup Indonesia…
1prambanan01


Salam damai - Wurry